Thursday, January 24, 2013

Konsekuensi dari sebuah pilihan

Setiap manusia punya keinginan, punya harapan, punya tujuan hidup. Untuk bisa meraih harapan dan keinginan itu, tentu harus dimulai dengan niat, dilanjut dengan proses yang bisa ntah dimana endingnya, berakhir dengan hasil. Hasil akhir ini pun tentu bergantung dengan proses itu sendiri. Satu hal yang tidak mungkin dilupakan, konsekuensi, yang pasti ada, dan suka bermunculan kapan aja.

Ambillah contoh ketika saya memilih untuk melanjutkan kuliah di negri Hitler ini. Jujur, dan mungkin udah pernah saya tulis sebelumnya di tulisan2 sebelumnya, dari awal saya kesini supaya bisa kembali melihat eropa, melihat eropa dengan lebih jelas, dan yang paling utama : bisa ketemu dengan kawan2 S1 dulu sekaligus berkunjung kembali ke Sarajevo.

Niat studynya gak ada?? nyelip dimana??Tentu ada, dan pastilah ada *sambil mikir nyelip dimana ya??

Gimana dengan proses ? mulai dari nyiapin applikasi *waktu itu ijazan saya masih di jakarta untuk penyetaraan,ktp juga dipaket yg sama dgn si ijazah, paspor expired dan sedang diperpanjang di kantor migrasi* , minta surat rekom dari si advisor pas s1 dulu, belajar bahasa inggris yg baik dan benar *toefl saya kacoooo*. Belakangan ikut les ielts juga

Konsekuensi? sering bolos kerja *eh ini sih gpp ya :p * , gak punya waktu untuk ketemu kawan2 kayak dulu - karena saya les sore jam 4 sampe maghrib dan malam saya g mungkin kelayapan jg. itu konsekuensi selama proses. Setelah berangkat makin banyak lagi, ninggalin keluarga, punya kehidupan baru disini juga saya anggap konsekuensi yang menyebabkan saya seperti kehilangan bbrapa teman terdekat. Salah saya juga karena tidak keep contact regularly sama mereka. Dan saya akui.. ini salah satu yang paling berat. Kok bisa??? friends will stay as friends. Can be more than friends, but shouldn't be less. Tapi faktanya, saya merasa sebaliknya. Memalukan.

Saya yakin, kalau niatnya baik, tentu hasilnya akan baik juga. (Mungkin dan bisa jadi) Tidak baik di mata manusia, tetapi baik di mata sang pencipta *itu lbh bagus kan ya :) . Bukan berarti melupakan proses itu sendiri - yg merupakan satu faktor utama.

Diingat2 lagi.. seingat saya.. niat saya dari awal ingin kembali bertemu dengan teman2 lama, reuni dengan mereka. Tidak pernah terbayang klo saya pernah berniat melupakan teman2 di indo, atau setidaknya menjauh dari mereka. Astaghfirullah. Dan tidak pernah terbayang pula, itu bnran kejadian. Ah..curhat lagi kan.

Untuk teman2 disana, mungkin ketemu langsung - face to face ..itulah yang namanya komunikasi, jadi sangat bisa dimengerti. Sedang bagi saya dan teman2 disini, bisa ngobrol via skype sampe pagi walopun dengan bahasan2 gak penting sekalipun, ataupun komentar2 gak jelas di asferadio, udah sangat luar biasa. Rasanya semingguan bisa ttp senyum ngejalanin hari2 *halah* yang penuh dengan assignments. But seriously, it does make you smile whole week after talking with them one night.

Smua punya kondisi masing2, ah..klo mereka bilang : kita punya dunia masing2. Yap, cant help but agree actually :). Atau kayak mereka bilang, saya udah terlalu nyaman dengan dunia saya yang saya jalani 7 tahun terakhir ini :) . Mungkin, it might be true

*speechless already about it
Btw..jangan menebak2 juga, saya nulis utk siapa.. bukan utk siapa2 juga..ini hasil percakapan saya dan bbrpa temann lainnya di indo sana.

Kembali ke niat - proses - hasil - dan si konsekuensi yg bs muncul kapan aja

Apapun konsekuensinya, dalam usaha meraih apa yang kita cita2kan, kita harus tetap berusaha sebaik mungkin, Gak hanya berniat trus diam gak ngerjain apa2 juga. Niat + Usaha + Doa. Bismillah *ini kta si mba2 di Bonn sini :). Tapi siapa sih yang gak takut sama yg namanya konsekuensi? smua juga takut..but what does matter : how you overcome your own fear.



Dan satu lagi, jika usahamu kamu niatkan untuk berjihad di jalan Allah, smuanya akan terasa lebih mudah. InshaAllah *ini juga kata2 si mba itu :)




Bonn, 04:02 am
Another insomnia night, with paper *ihik

No comments:

Post a Comment

You might wanna read :